Tampilkan postingan dengan label kedai sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kedai sastra. Tampilkan semua postingan

Bapak dan Puntung Asmara



jelas sekali terpaut plang peringatan di ambang pintu
tapi bapak merangsek memaksa memasuki
menyingkirkan plang seolah tak pernah ada
berlenggang santai bapak berkelana menyusuri lorong-lorong penuh kenikmatan
terlena sesaat terlupa pada kami
yang teronggok mendiamkan diri sebelum dinding tirani
tak sesekali kami meneriaki
namun bapak tetap bergeming mencumbu sudut-sudut penuh rayu bidadari
akhirnya kami kembali, membiarkan bapak asyik sendiri
bergumul mesra menggoda sari-sari yang menyesaki
ah, bapak. Tak taukah, itu asmara tuk pelarian tak abadi
yang akhirnya akan membinasakan tanpa empati

Di Bis Kota



Mendesir halus bergoyang kiri kanan
Pohon-pohon berjajar mengucap selamat jalan
Lalu lalang kawannya bersalipan
Aku duduk merebah dekat jendela
Mata jelalatan memandang semesta
Permadani hijau menghampar nan luas
Sungguh elok lukisan Pencipta
Hati terkagum terucap syukur
Sekali kondektur membisik sesuatu
“pacitan” ,,
ku tiup rupiah dalam saku
kondektur mengangguk lalu berlalu

Kenyataan Yang terpinggirkan



Terik menderas
Mencengkeram ubun-ubun, diujung keluhan
Menyeret langkah tertatih diantara bau busuk
Menyengat menelusuri lalu membelai lubang2 hidung
Baju berlapis kumal sejak kemarin
Karena hanya ini yang teronggok mengepas tubuh
Wangi minyak tubuh menguar surga
Burung elang mengepak ringan
Bergurau melintasi cakrawala
Iri itu datang lagi..