SEPOTONG ASA



Di waktu itu, ketika harapan tlah memudar
Tak ada lagi asa yang bersemayam
Hanya rutuk bersenandung dalam hati
Langkah telah melesu, namun ku coba merangkak
Mencari puing-puing yang masih tersisa di ujung penghabisan
Puing-puing yang kiranya dapat ku masuki
Lalu ku renda lagi harapan-harapan yang tlah pupus
Mendebar rasaku menunggu dan mencari,
setelah tusuk patah yang menusukku di waktu kemarin
hanya diam yang mampu melukiskannya.
Akhirnya, di sisa waktu terakhir, di saat semua tlah pada jalan masing2
Tuhan tunjukkan aku jalan itu
Jalan yang lalu ku tapaki selangkah demi selangkah
Ku tepis hebat keraguan yang merajai kalbu
Serta ketakutan yang masih tersisa di antara pecahan puing-puing berserakan

Tuhan, masih sayang padaku
Di tiupkannya keyakinan itu pada ubun-ubun
Hingga akhirnya aku mantap menatap gerbang itu, gerbang pengantar masa depan
Ku catat lagi angan yang sempat terhapus pada rekah-rekah paving

Semakin dalam aku memasukinya
Semakin nyaman aku di dalamnya
Walau terkadang, rekahan luka itu menganga
Tapi Tuhan merengkuhku dengan sayang
‘Inilah jalan terbaik untukmu’ bisiknya merasai hati
‘Tak hanya kamu, beratus ribu sepertimu. Namun senyum tetap melukis riang, meski terkadang memang hati meradang’
Tuhan membaca harapanku..
Di pertemukan aku dengan 43 bintang alnilam
Namun ada 7 yang akhirnya menjadi purnama
Malamku tak lagi pekat
Tak sampai di situ, di tuntunnya langkahku
kepada bumi kedamaian, dimana kebaikan menjadi lentera
Keramahan menghias pertemuan
Kini kurasai benar dalam jiwaku
Tuhan begitu sayang padaku
Dijadikan aku pembelajar pada sosok yang mendekatkanku pada impian semenjak belia
Tuhan begitu sayang padaku, itu yang ku tahu
Ini masih awal perjalananku ...
Selamat berjuang