ESAI


 
Pengertian esai
Menurut H.B Jassin ( Sang Paus Sastra ) Esai adalah uraian yang membicarakan bermacam ragam,tidak tersusun secara teratur tetapi seperti dipetik dari bermacam jalan pikiran. Dalam esai terlihat keinginan,sikap terhadap soal yang dibicarakan, kadang-kadang terhadap soal yang dibicarakan.
 Menurut Soetomo, Esai adalah sebagai karangan pendek mengenai suatu masalah yang kebetulan menarik perhatian untuk diselidiki dan dibahas. Pengarang mengemukakan pendiriannya, pikirannya, cita-citanya dan sikapnya terhadap suatu persoalan yang disajikan.
Menurut KBBI Esai adalah karya tulis atau karangan dalam bentuk prosa yang memaparkan tentang sesuatu masalah dari sudut pandang pribadi penulis secara lugas ndan sepintas.
Dari ketiga pengertian diatas dapat diambil kesimpulan Esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah dalam bidang kesusasteraan, kesenian, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan filsafat berdasarkan pengamatan, pengupasan, penafsiran fakta yang nyata yang berlaku dari sudut pandang pribadi penulis.
Ciri- Ciri Esai
1.      Berbentuk prosa, artinya dalam bentuk komunikasi biasa, menghindarkan penggunaan bahasa dan ungkapan figuratif.
2.      Singkat, maksudnya dapat dibaca dengan santai dalam waktu sekali duduk.
3.      Memiliki gaya pembeda. Seorang penulis esai yang baik akan membawa ciri dan gaya yang khas, yang membedakan tulisannya dengan gaya penulis lain.
4.      Selalu tidak utuh, artinya penulis memilih segi-segi yang penting dan menarik dari objek dan subjek yang hendak ditulis. Penulis memilih aspek tertentu saja untuk disampaikan kepada para pembaca.

5.      Memenuhi keutuhan penulisan. Walaupun esai adalah tulisan yang tidak utuh, namun harus memiliki kesatuan, dan memenuhi syarat-syarat penulisan, mulai dari pendahuluan, pengembangan sampai ke pengakhiran. Di dalamnya terdapat koherensi dan kesimpulan yang logis. Penulis harus mengemukakan argumennya dan tidak membiarkan pembaca tergantung di awang-awang.
6.      Mempunyai nada pribadi atau bersifat personal.  Yang membedakan esai dengan jenis karya sastra yang lain adalah ciri personal. Ciri personal dalam penulisan esai adalah pengungkapan penulis sendiri tentang kediriannya, pandangannya, sikapnya, pikirannya, dan dugaannya kepada pembaca.
Jenis tulisan esai
Tulisan esai terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian pembuka, bagian  isi, dan bagian penutup. Sementara itu, jenis tulisan esai terbagi menjadi empat, yaitu deskripsi, narasi, eksposisi, dan argumentasi.
1.     Esai deskriptif, ialah karangan esai yang berisi pengalaman suatu yang dilihat, dirasa, didengar, dialami, dan sebagainya, sehingga membuat pembaca seolah-olah melihat, merasa, mendengar, mengalami, dan sebagainya, apa yang digambarkan tersebut (memfungsikan pancaindra si pembaca). Tulisan esai deskripsi ini bertujuan memberikan gambaran tentang sesuatu kepada pembaca.
2.     Esai naratif, menggambarkan suatu ide dengan cara bertutur. Kejadian yang diceritakan biasanya disajikan sesuai urutan waktu.
3.     Esai ekspositori, ialah karangan esai yang berisi penjelasan-penjelasan atau paparan yang dapat memperluas pengetahuan pembaca. Biasanya dilengkapi dengan penjelasan tentang proses, membandingkan dua hal, identifikasi sebab-akibat, menjelaskan dengan contoh.
4.     Esai argumentatif, ialah karangan esai yang berisi pendapat yang disertai pembahasan logis dan diperkuat dengan fakta-fakta sehingga pendapat itu diterima kebenarannya.

Langkah-langkah pembuatan esai
Jika dipetakan mengenai langkah-langkah membuat esai, bisa dirunut sebagai berikut:
1. Menentukan tema atau topik
2. Membuat outline atau garis besar ide-ide yang akan kita bahas
3. Menuliskan pendapat kita sebagai penulisnya dengan kalimat yang singkat dan jelas
4. Menulis tubuh esai,   memulai dengan memilah poin-poin penting yang akan dibahas, kemudian buatlah beberapa subtema pembahasan agar lebih memudahkan pembaca untuk memahami maksud dari gagasan kita sebagai penulisnya, selanjutnya kita harus mengembangkan subtema yang telah kita buat sebelumnya.
5. Membuat paragraf pertama yang sifatnya sebagai pendahuluan.
6. Menuliskan kesimpulan. Ini penting karena untuk membentuk opini pembaca kita harus memberikan kesimpulan pendapat dari gagasan kita sebagai penulisnya. Karena memang tugas penulis esai adalah seperti itu. Berbeda dengan penulis berita di media massa yang seharusnya (memang) bersikap netral.
Pola dalam Esai
   Widyamartaya (1990) mengemukakan bahwa ada empat pola penulisan esai, yaitu (1) P-D-S, (2) P-S-P, (3) M-B-P, dan (4) inversi. Berikut ini dipaparkan keempat penulisan esai tersebut.
1. Pola Pendirian-Dukungan-Simpulan (Pola P-D-S)
Menulis dengan pola ini sangat efektif untuk mengembangkan pikiran, perasaan, logika mengenai suatu hal secara sadar, reflektif, terencana, mendalam, dan masak. Tujuan menulis dangan pola P-D-S ialah mengemukakan dengan jelas pendirian, sikap, wawasan, atau pandangan pengarang atas suatu topik, kemudian memberikan alasan – alasan yang mendukung pendirian atau pandangan itu, dan akhirnya menyimpulkan semua yang sudah dipaparkan.
2. Pola Pendapat-Sanggahan- Pendirian (P-S-P)
Menulis dengan pola P-S-P sangat efektif untuk menyanggah pendapat orang yang bertentangan dengan pendirian kita yang kita yakini benar. Tujuan mengarang dengan pola P-S-P ialah menyanggah pendapat orangt lain sekaligus berfungsi sebagai serangan atas pendapat orang lain dan dukungan kepada pendirian sendiri. Setelah melancarkan sanggahan-sanggahan, ditariklah simpulan yang menegaskan pendirian kita. Penegasan pendirian dalam simpulan ini merupakan suatu keharusan.
Dalam pola P-S-P ini terkandung pola P-D-S. itu lah sebabnya, pola P-D-S adalah proses dasar dan harus di kuasai sebaik-baiknya terlebih dahulu,seperti yang  telah dikemukakan terdahulu.
3. Pola Masalah-Bahasan-Pemecahan (pola M-B-P)
            Perkawinan anntara pola  P-S-P dengan P-D-S  akan menghasilkan pola baru, yaitu pola M-B-P, pola ini dibuat jika hendak memberikan suatu solusi terhadap permasalahan orang , sekelompok orang atau masalah yang sedang actual. Sebelum mengajukan pemecahan masalah yang lebih baik,  kita harus membahas permasalahan yang ada itu. Dalam membahas masalah –masalah itu, hal hal yang dikemukakan antara lain , berupa serangan atau kritikan terhadap sikap-sikap keliru yang menyebabkan terjadinya keadaan atau situasi yang tidak di kehendaki itu. latar belakng masalah atau situasi yang tidak di kehendaki itu harus tergambar jelas sebelum dapat memberikan “resep” sebagai solusinya.
4.  Pola Inversi
            Pola inverse ini yaitu pola yang menempatkan gagasan pokok karangan di bagian akhir.
·         Pembuka
Dimulai dengan mengemukakan butir-butir evidensi
·         Evidensi
Sebuah fakta yang ada
·         Penjelasan
Penjelasan diberikan untuk memperkokoh evidensi
·         Pendirian
Pendirian diletakkan di akhir paragraf