“janji ya, kita akan jadi sahabat
selamanya” aku hanya bisa menganggukan kepala. 2 jari kelingking mungil itu pun
saling bertaut. “ech, Na. liat itu dech”.
“apa?” aku menoleh mengikuti arah ujung telunjukkmu. Terlihat segerombol burung terbang melintasi cakrawala senja yang sore ini. Aku tersenyum, aku tahu apa yang kamu maksudkan. Ku lihat matamu berkaca-kaca. Tidak! Kini, mata itu mengalirkan air mata dari pelupuk matamu. diva!!
“Diva, kamu kok jadi cengeng
gini?” aku berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba sendu. Tapi kamu tetap
terdiam. “Diva …”ulangku sekali lagi. Tapi kamu tetap bergeming. Ada apa
denganmu sore ini? Tidak seperti Diva kemarin-kemarin yang periang dan suka
bercanda.
“Na …” kamu menoleh kearahku,
tapi justru tangismu semakin tergugu. “Diva … kamu kenapa sich? Cerita sama
aku” aku semakin heran melihat tingkahmu itu. Takut tepatnya!
“Diva, aku minta maaf ka …..”
“Tidak Na, aku yang minta maaf”
ujarmu, memotong perkataanku. “terus kenapa kamu tiba-tiba jadi cengeng gini?”
kamu mencoba tertawa di sela tangismu. diva! Jangan buatku semakin bingung.
“kita akan berpisah, Na”
“apa maksudmu?” tanyaku, tak
mengerti mengapa tiba-tiba kamu mengungkapkan itu. “Na, aku minta maaf” ucapmu sendu.
“Diva, kamu kenapa sich? Kamu tau
gak?? Aku bingung dengan sikapmu ini. Apa yang terjadi denganmu?” tiba-tiba
kamu menghambur memelukku.
“aku .. aku … akan pindah!”
bisikmu lirih. Yang masih tak ku mengerti maksudmu.
“a .. aku .. akan pindah ke
bandung setelah kelulusan ini” lirih namun terasa seperti gelegar petir di
telingaku. Aku tak tahu lagi harus berkata apa. “kenapa?” tanyaku, hampir tak
terdengar. “kamu tahu kan orang tuaku
seperti apa? Mereka menganggap sekolah di Bandung lebih baik daripada di kota
kecil ini. Karena ayahku yang seorang dosen, lulusan dari sana. Aku tahu, semua
sekolah itu sama. Hanya aku tak pernah tahu apa yang ada di fikiran orang
tuaku, hingga beranggapan seperti itu” kamu masih erat memelukku, seperti tak
mau untuk dipisahkan.
“Diva, ayo cepat naik. Sudah
siang” ibumu memanggilmu dari dalam mobil yang
juga mengangkut barang-barangmu. Kamu masih terdiam, tak beranjak dari
hadapanku. Kita saling berhadapan, namun hanya air mata yang mampu berbicara.
Semua terasa kelu. Perlahan kamu mulai beranjak menuju mobil, meninggalkan aku
yang masih berdiri terpaku. Tak sepatah
katapun kamu ucapkan padaku. Mobil yang membawamu perlahan berlalu, menghilang
dari pandanganku. sahabat! Masih kah kita tetap bersahabat??
***
“Na, hoiii”
“Astagfirullah …” aku tersadar
kembali dari alam khayalku, dari memori yang tersimpan rapat-rapat sejak 6
tahun silam. Kini seolah menohokku untuk kembali memutarnya kembali. Ya, selama
itu pula tak pernah ada kabar dari kamu, sahabatku! Apa kamu masih mengingatku,
mengingat namaku?
“aduuh .. malah ngelamun lagi.
Kesambet baru tau rasa lho. Ayo cepetan masuk, tuh acaranya udah mulai” cerocos
mila, sahabatku di SMA.
“Ah, nyebelin kamu. Iya .. iya …
bentar”
“ayo, aah .. lama”mila menarik
tanganku, membawaku masuk menuju kursi penonton yang hampir penuh terisi.
Semuanya aku tahu, mereka teman-teman sekolahku. Hari ini perpisahan kelas 3,
berarti setelah ini aku bukan lagi siswa SMA.
“Bintang tamunya siapa saja?”
tanyaku pada mila yang sedang asyik mengikuti irama lagu yang sedang dimainkan
di atas panggung.
“ach, payah kamu. Masa gak tau
sich?” ujarnya setengah berteriak, karena disini bising sekali.
“emang nggak tau” ucapku, kesal.
“salah satunya band dari bandung
yang lagi naik daun itu lho, vokalisnya cewek mirip momo geisha”
“aku nggak tauu …” teriakku.
“kamu sich nggak pernah update
soal music”
“biarin, gini-gini aku kan juga
masuk peringkat 5 besar” balasku.
“percayaa …” teriak mila.
“ Selamat siang semuaa, ini lagu
pertama kami. Saya persembahkan untuk sahabat kecil saya” perdebatan kami
terhenti oleh suara yang lebih keras
berasal dari atas panggung. ooh .. ternyata band dari bandung yang kata mila
vokalisnya mirip momo geisha. Sekilas memang iya, mulai dari rambutnya,
wajahnya, suaranya pun hampir sama. Alunan
music yang dimainkan mulai mengalun di iringi suara merdu vokalisnya.
Semuanya hanyut dalam suasana, ikut bernyanyi.
“Na ….?” Aku menoleh ke asal
suara yang memanggilku ketika aku berjalan keluar, karena acaranya sudah
selesai.
“iya ? oh, kamu kan vokalis band
tadi ya?” tanyaku sok akrab. Ia hanya tersenyum. Aku bingung memandangi sosok cantik yang kini
berdiri di hadapanku. “ehm, ada apa ya?” tanyaku.
“kita masih sahabat kan?”
“maksudnya?”
“maksud saya, kita masih sahabat
kan?” ulangnya lagi. Sebentar. Jangan membuatku bingung.
“ehm, emang kamu kenal aku ya?”
pertanyaan bodoh. Lagi-lagi ia hanya tersenyum. Otakku masih mencoba mencerna
semua ini. Kata tadi, orang ini.
“di .. diva ?” aku ragu
mengatakannya. Namun, tiba-tiba ia memelukku.
“Na, apa kabar?”
“Diva ….” Aku masih tak percaya atas
kejadian yang tak pernah ku sangka ini, apa benar ini kamu?. “kita masih sahabat kan?” bisikmu lagi. Tak
perduli pada tatapan heran yang tertuju pada kita. Aku tergugu, pasti kamu tahu
jawabnya. Sahabat kecilku telah kembali, seperti senja yang kembali menghias
cakrawala di sore hari.
“kamu sekarang sudah terkenal
ya?”
“kamu masih saja suka bercanda” kamu mencubit
pinggangku. Seperti dulu.








0 komentar: