jelas sekali terpaut plang peringatan
di ambang pintu
tapi bapak merangsek memaksa memasuki
menyingkirkan plang seolah tak pernah
ada
berlenggang santai bapak berkelana
menyusuri lorong-lorong penuh kenikmatan
terlena sesaat terlupa pada kami
yang teronggok mendiamkan diri sebelum
dinding tirani
tak sesekali kami meneriaki
namun bapak tetap bergeming mencumbu
sudut-sudut penuh rayu bidadari
akhirnya kami kembali, membiarkan bapak
asyik sendiri
bergumul mesra menggoda sari-sari yang
menyesaki
ah, bapak. Tak taukah, itu asmara tuk
pelarian tak abadi
yang akhirnya akan membinasakan tanpa
empati

